Satnight
Seuntai
pesan untuk dia
Satnight,
begitu yang diucapkan para remaja muda yang mungkin bagi sebagian orang telah
lama menunggunya. Namun berbeda dengan satnight malam ini, hingga pukul 01.25
dini hari mata ini masih terjaga bersama banyak hal yang masih mengantri untuk
dipikirkan dan meminta segera diungkapkan. Tak terasa air mata ini menetes
membasahi bantal dan boneka tedy bear ping yang sedari tadi ku peluk. Setelah lama
mengguling kesana kemari, memutar berkali-kali semua daftar lagu yang ada
dihandphone akhirnya hati ini memutuskan untuk mengambil notebook dan menuliskannya
dalam kata demi kata.
Semua
hal masih tentang dia, tentang cinta yang setia dalam balutan hubungan yang
harmonis. Dia yang pandai buat aku tertawa, dia yang tak absen menjaga aku
dalam setiap hari yang terus berganti, dia yang memperlakukanku bak ratu, dan
selalu berusaha menjaga hubungan ini dengan caranya yang orang lain tak punya. Namun
itu dulu, saat dia masih merasa takut kehilangan aku dan masih merasa aku perlu
untuk dijaga. Masih terhitung hari umur hubungan ini namun hatiku mulai merasa
sepertinya banyak yang berubah dari sosok seorang dia.
Aku
bukan manusia yang tak punya hati, bahkan batu yang keraspun akan berlubang
oleh tetes demi tetes air yang jatuh dengan setia. Dia selalu berusaha
mengambil hatiku sejak awal dia mengenalku. Sepertinya telah banyak luka yang
aku ciptakan untuknya secara tidak sengaja. Dan karena itulah hati ini semakin
tak ragu untuk memilihnya menjagaku dalam suasana hati seperti apapun. Dengannya
aku berhasil menghalau bahkan membuang jauh-jauh semua kata orang tentang
dirinya. Aku seperti tersihir oleh setiap kata-katanya serta tindak tanduknya
hingga aku merasakan inilah yang terbaik untukku.
Biasanya aku dan dia bertemu seminggu 2
kali frynigt dan satnight. Dan aku sudah sangat menantikan malam itu disetiap
minggunya. Namu itu saat aku masih aktif kuliah dan mengikuti banyak kelas. Kini
aku telah berada di semester atas dan kesibukan kuliah sudah mulai pergi dari
hari-hariku hingga kapanpun akan jadi sat night bagi kami. Tiga hari sudah aku
dan dia tidak bertemu dan hatiku masih baik-baik saja. Rindu tentu, namun ada
banyak alasan yang seolah menahanku untuk tidak menemuinya. Aku tidak dapat
memastikan kebenarannya namun rasa bosan ini seolah menahanku untuk
mengungkapkan rasa rindu yang sangat menggangguku hingga malam ini. Lama aku
berfikir dalam suasana hening akhirnya aku menarik hipotesis bahwa aku mulai merindukan
semua sikapnya yang dulu, sikapnya yang manis dan masih selalu ada dalam
ingatanku.
Aku tak tahu dia anggap aku ini siapanya,
namun dengan hubungan yang telah terjalin sekitar dua setengah tahun aku rasa
wajar jika aku merasa bosan dan jenuh. Apalagi dia tak pernah lagi menunjukkan
sikap yang spesial didepanku. Aku ingin dianggap ratunya bukan selir atau
bahkan dayangnya dalam istana cintanya. Aku ingin diagungkan dengan caranya dan
dilayani dengan penuh cinta, bukan dibiarkan apa adanya tanpa melakukan
apa-apa. Cinta itu anugrah tuhan dan semua orang memilikinya, namun demikian
tidak semua orang dapat menunjukkannya dengan cara yang sempurna. Begitupun dia
yang aku yakin sangat dan sangat menyayangiku, namun begitu aku ingin dia
mengungkapkannya dengan cara yang aku suka dan berbeda dari lainnya.
Lagi-lagi hati ini memberontak keras ingin
meninggalkannya sejenak untuk setidaknya ia berfikir dan memikirkan tentang aku
atau bahkan tentang kita. Tapi pada kenyataannya aku selalu gagal dan gagal
lagi, akibatnya tidak ada yang berubah dan dia semakin seenaknya membuat
hal-hal yang tidak aku suka dan membuatku benci. Mungkin aku harus mengatakan padanya hal yang aku
rasakan ini, walau mungkin jauh dari kata pantas dan akan menyinggungnya.
Semua hanya butuh waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar