KOD SHOUTBOX KAMU!!!
KOD SHOUTBOX KAMU!!!

Senin, 03 Februari 2014

Rinduku Untuk Cinta...

( Bagian 1 )
 “About Me”

Aku dan kamu adalah dua insan yang jauh berbeda. Aku langit yang tinggi dan kamu lautan yang sangat dalam. ‘ kata mereka ’. Namun sebenarnya aku dan kamu tidaklah sejauh yang mereka katakan , kita punya awan yang membuat kita terlihat dekat. kita punya senja yang membuat kita nampak sempurna. Dan kita punya gelap yang mambuat deburan ombakmu terasa merdu dibawah langit malamku yang indah.

Setahun lalu, di awal bulan Februari tepatnya aku mengenalmu dengan tanpa sengaja. Ditengah hatiku yang tidak sendiri kau hadir tanpa kuundang. Kamu yang tinggi, kurus, berkulit hitam, cerewet dan bertingkah konyol sepertinya sangat bukan tipeku. Bukan hanya itu, sifatmu yang humoris dan mengnggap segala sesuatu hal lucu membuatku tak suka dan begitu tidak nyaman.

Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas di Yogyakarta. Avrilia. . . begitu mereka memanggilku atau Prily lebih akrabnya . nama Prily ini aku dapatkan dari salah satu fans_ku saat kelas tiga SMA dan kemudian aku abadikan sebagai nama akun Fcebookku, oleh karenanya nama ini lah yang lebih fammiliar dibanding nama asliku. Aku terlahir dibanjarnegara dengan disertai tangis yang merdu 18 tahun yang lalu. Sedari kecil aku  lebih banyak menghabiskan waktuku bersama eyangku dari pada dengan orang tuaku. Mereka bekerja di luar kota untuk biaya sekolahku, hingga banyak momen terlewat yang seharusnya aku habiskan bersama mereka. Oleh karena itulah aku terbiasa mandiri, melakukan apapun sendiri dan tidak harus meminta bantuan orang tua. Aku terkesan cuek dan suka menyendiri sehingga aku sulit mendapatkan banyak teman, hanya sebatas kenal tetapi tidak akrab. Seperti sekarang ini, dibangku kuliah aku hanya memiliki dua teman yang aku bilang cukup mlengkapi kekuranganku dan cukup juga untuk menjadi teman curhat sekaligus teman hidupku di kota Yogyakarta.

Dialah evi dan nurul yang keduanya aku bilang dua sosok yang berlawanan sifat, meski masih satu pendapat. Evi adalah saudara kembarku yang tertunda kata banyak orang. Ini karena dimanapun kita bertemu seseorang mereka sudah pasti menanyakan “ mba’nya kembar ya? “ ..kalau ini sudah terjadi kami hanya bertatapan dan melebarkan senyum se manis-manisnya. Evi lebih sering dipanggil mungil atau cengil, ya mungkin karena tubuhnya yang mungil. Dia  ini mempunyai sifat ‘kadang-kadang’. Kadang-kadang rajin, rajin mengerjakan tugas sebelum aku dan nurul menyentuh handoutnya, rajin membereskan semua yang menurutnya tidak rapi bahkan sampai tak ada sebutir debupun dikamarnya.  Tapi saat malasnya kambuh, jarang kuliah, mengerjakan tugas pun tinggal copas (copy_paste) dari teman dan kamarpun seperti kapal pecah.

Berbeda dengan temanku yang satunya, si Nurul. Dia adalah temanku yang memiliki sifat ‘selalu’. Selalu rajin kuliah, selalu rapi, selalu rajin marah-marah kalau aku dan evi terlambat berangkat kuliah, selalu mengingatkan kami apapun yang akan dikerjakan sekarang bahkan esok hari, dan tak ketinggalan ia adalah satu-satunya makhluk yang selalu galau. Ya karena banyak hal, terutama untuk hal pacar dan gebetan yang bahkan melebihi jumlah maximum. Nurul juga yang tertua diantara kami, dia sudah seperti ibu bagi kami, dia yang suka bilangin kalau kita belum mandi, dia yang suka marah-marah kalau kita lagi malas kuliah dan pokoknya is the best lah.

Momen ini adalah pertama kalinya dia munncul ditengah-tengah  kami yang sering berkumpul karena berasal dari daerah yang sama, Banjarnegara. Memang di kampusku banyak semacam perkumpulan dari kedaerahan yang tergabung dalam satu organisasi. Tak berbeda denganku yang saat ini sedang berkumpul dalam pembahasan acara pengajian yang diadakan oleh divisi keagamaan dan intelekual.

“Hai ket” kudengar seseorang memanggilnya. Aku menoleh, siapa dia ? sepertinya tidak asing. pandangku sinis. Dia yang sok akrab tiba-tiba mendekat duduk di dekatku dan menanyakan namaku  lewat temanku karena aku yang mungkin terlalu cuek. Tanpa ku tahu ternyata mungil mengenalnya dari onetz cowoknya yang dulu serumah kontrakan dengannya.

Tak terasa kini imajinasiku kembali pada waktu 4 tahun lalu, waktu dimana aku masih menjadi siswa dan bukannya mahasiswa di suatu Madrasah di daerahku. Aku mncoba menerawang dan mengingat siapa sosok aneh yang berada di depanku saat ini. Namun otakku tak mampu mencapai ingatan yang jelas walaupun telah berusaha sekuat yang ia bisa.

Vai       : kamu evi kan ? kita pernah bertemu ya sebelumnya?
Evi       : kayaknya si begitu, temennya onetz kan mas ?
Vai       : iya .. aku vai . panggil saja songket.
Evi       : Evi (berjabat tangan).
Vai       : siapa temanmu? kenalin dong vi, .(sambil cengingisan )
Evi       : Avrilia , (berjabat tangan) panggil saja lia.
Lia      : Dari banjar mas? Alumni mana? (tersenyum sekedarnya)
Vai       : MAN 2 Banjarnegara, kamu ?
Lia       : samaan ? kok aku nggak kenal ya ? tapi kaya pernah liat sih ..
Bla bla bla ….

Akhirnya obrolan ini terhenti karena acara rapat dimulai dan khusni sebagai ketua organisasi dan sekaligus pemimpin rapat mengambil alih situasi .
***
Malam itu tanggal 23 februari tepat dimana hari onetz di antar oleh ibunya ke dunia atau lebih familiar disebut hari lahirnya. onetz adalah seseorang dengan tubuh tinggi, kurus, sedikit pendiam dan gila game. Dia adalah teman songket yang saat ini   menyandang status sebagai pacarnya evi. Dan pada malam itu bagaimanapun ceritanya aku diharuskan turut andil dalam acara surprise yang dibuat mungil untuknya. Sedemikian rupa mungil merancang konsep kejutannya itu bersama phendi. Phendi adalah manusia super jail penghuni kontrakan. Phendi_lah yang bisa dikatakan paling cakep diantara vai dan onetz, namun dia juga yang paling jorok sedunia. Jarang mandi, suka kentut sembarangan, pokoknya tingkahnya bikin ilfeel. Tapi bagaimanapun dialah satu-satunya yang bisa dajak kompromi meskipun dengan syarat ba bi bu tapi akhirnya datang juga dia di depan kosan evi untuk mengantarnya membeli kue ulang tahun.

Jam telah menunjukkan pukul 07.30, dan berangkatlah kami menuju TKP. Ternyata vai_lah yang menjemput aku di kosan evi, ya sebenarnya karena tidak ada lagi orang yang bisa jemput kecuali dia. Ahirnya dengan sedikit canggung kita  berangkat dan mulai membuka pembicaraan yang bagiku tidak terlalu penting dan terkesan garing.

Beberapa saat kemudian sampai juga kami di kontrakan yang dimaksud. Kontrakan yang tidak terlalu besar dengan empat kamar tidur, ruang depan, ruang tengah, kamar mandi serta garasi itu terletak agak jauh dari kos evi. Konrakan yang sedikit berantakan itu terbangun di depan serumpun bambu yang mebuatnya terkesan horor, terlebih jika hari mulai malam hanya suara jangkrik yang tersaingi oleh suara soundsystem yang sengaja dibunyikan keras-keras untuk menghalau sepi. Sejenak menyusun strategi dan berbagi posisi, dan …

Surprise ….. 
Kata mungil mengejutkan onetz yang sedang bermain pes dikamarnya. Dia cuma cengar-cengir karena senang bercampur malu, katanya saat diinterogasi sesaat setelah acara. Hmm Sebuah ekspresi yang sangat mengecewakan bagi kami. Setelah itu acara sakral selanjutnya adalah tiup lilin disertai make a wish dan makan-makan pastinya, mereka terlihat asik menikmati malam itu, kecuali aku yang Cuma senyam-senyum manis. Aku canggung, malu dan aku sendiri yang sama sekali belum mengenal mereka semua, tapi ya dibikin asyik aja. Kan ada vai yang notabene orang yang pengen kenal sama aku jadi ya its ok. Tak terasa waktu cepat berlalu dan saatnya come back to kosan. karena kosnya jam 9 sudah tutup jadi mau tidak mau harus kembali pulang dengan dengan membawa banyak cerita.

Tuit tuit … 
Hp pun berbunyi, dari vai ternyata, dan akhirnya perkenalanpun dimulai. Saat itu dia belum mengetahui kalau aku sudah memiliki cowok . Harry namanya, tapi bukan harry poter pastinya. Dia baik, manis, dan perhatian kepadaku. Dia paling bisa buat orang bahagia dan merasa paling sempurna. Walaupun aku tidak tahu baik kepadaku atau kepada semua cewek. Dia tinggi, putih, asik dan dia berhasil mengambi hatiku serta menjalani hubungan denganku dua bulan ini.

Di sore itu aku ke kosan mungil bersama Nurul. Sebelum sampai dikosan, di dekat warung makan tepatnya ku bertemu Harry dan reflek aku cium tangan seperti sewajarnya saat bertemu dengan pacar, namun tanpa ku sadari ternyata ada yang memperhatikan aku di warung makan dengan ekspresi kecewa. Dia lah vai yang ternyata berniat meminta foto dan cerita tentang aku dari mungil. Sumpah aku kaget, apalagi kita baru saja bisa dekat karena rajin smsan, aku Cuma tersenyum dan segera berlalu karena rasaku yang  ingin segera menghempaskan diri di tempat tidur dan menutup mukaku dengan bantal.

Bruuk .. ku hempaskan tubuhku ini di  tempat tidur mungil yang tidak terlalu empuk itu. Tak terasa air mata menetes, mungil pun bertanya kenapa aku menangis ? dan nurul yang mengetahui kronologis kejadiannya pun menceritakan kejadian itu pada mungil. Mungil Cuma berkata, kenapa kamu nangis ? dia nggak papa kok biar aku jelasin sama dia kalau Harry memang cowok mu. Bukan itu ngil aku nggak enak, aku merasa bersalah kataku, aku itu nggak tahu kalo ada dia di warung makan, kalau aku tahu aku nggak mungkin lah kaya gitu didepan dia. kedua temanku malah cerita sendiri. Dan ternyata vai tidak jadi menemui mungil karena teranjur kecewa. Sumpah aku nggak mau lihat wajahnya yang mengerikan karena mungkin menyimpan amarah padaku .

Malamnya aku sms dengan maksud meminta maafnya, tapi ekspresinya datar tidak seperi biasanya, dia malah bilang wajar karena dia bukan siapa-siapa dan Harry beruntung punya aku. Aduuh aku semakin merasa bersalah. Bagaimana ini ngil .. dia marah sama aku. ya sudah nanti juga baikan lagi, aku tahu dia bukan orang yang berpikiran pendek, tenang besok juga baikan lagi kata mungil.

Sebenarnya hubunganku dengan Harry tidak seharmonis kelihatannya, aku belum seratus persen yakin kalau dia memang mencintaiku dan menganggap aku pacar satu-satunya. Hanya karena saat ini statusku ceweknya jadi wajib bagiku untuk setia padanya  kecuali kalau dia memulai pertempuran dan selingkuh dariku itu lain cerita. Dan sepertinya aku mulai bisa menerima vai disisiku walaupun telah ku hancurkan harapannya dalam sekejap mata. Sebenarnya aku tidak yakin karena sikapnya akhir-akhir ini yang sering menghilang, jarang menghubungi, dan akulah yang harus  mencari keyakinan itu sendiri sebelum semua menjadi sia-sia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar