( Bagian 1 )
“About Me”
Aku
dan kamu adalah dua insan yang jauh berbeda. Aku langit yang tinggi dan kamu
lautan yang sangat dalam. ‘ kata mereka ’. Namun sebenarnya aku dan kamu
tidaklah sejauh yang mereka katakan , kita punya awan yang membuat kita
terlihat dekat. kita punya senja yang membuat kita nampak sempurna. Dan kita
punya gelap yang mambuat deburan ombakmu terasa merdu dibawah langit malamku
yang indah.
Setahun
lalu, di awal bulan Februari tepatnya aku mengenalmu dengan tanpa sengaja.
Ditengah hatiku yang tidak sendiri kau hadir tanpa kuundang. Kamu yang tinggi,
kurus, berkulit hitam, cerewet dan bertingkah konyol sepertinya sangat bukan
tipeku. Bukan hanya itu, sifatmu yang humoris dan mengnggap segala sesuatu hal
lucu membuatku tak suka dan begitu tidak nyaman.
Aku
adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas di Yogyakarta. Avrilia. . .
begitu mereka memanggilku atau Prily lebih akrabnya . nama Prily ini aku dapatkan dari salah satu fans_ku saat kelas tiga SMA dan kemudian aku abadikan sebagai nama akun Fcebookku, oleh karenanya nama ini lah yang lebih fammiliar dibanding nama asliku. Aku terlahir dibanjarnegara
dengan disertai tangis yang merdu 18 tahun yang lalu. Sedari kecil aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama
eyangku dari pada dengan orang tuaku. Mereka bekerja di luar kota untuk biaya
sekolahku, hingga banyak momen terlewat yang seharusnya aku habiskan bersama
mereka. Oleh karena itulah aku terbiasa mandiri, melakukan apapun sendiri dan
tidak harus meminta bantuan orang tua. Aku terkesan cuek dan suka menyendiri
sehingga aku sulit mendapatkan banyak teman, hanya sebatas kenal
tetapi tidak akrab. Seperti sekarang ini, dibangku kuliah aku hanya memiliki
dua teman yang aku bilang cukup mlengkapi kekuranganku dan cukup juga untuk menjadi
teman curhat sekaligus teman hidupku di kota Yogyakarta.
Dialah
evi dan nurul yang keduanya aku bilang dua sosok yang berlawanan sifat,
meski masih satu pendapat. Evi adalah saudara kembarku yang tertunda kata
banyak orang. Ini karena dimanapun kita bertemu seseorang mereka sudah pasti
menanyakan “ mba’nya kembar ya? “ ..kalau ini sudah terjadi kami hanya
bertatapan dan melebarkan senyum se manis-manisnya. Evi lebih sering dipanggil mungil atau cengil, ya mungkin karena tubuhnya yang mungil. Dia ini mempunyai sifat
‘kadang-kadang’. Kadang-kadang rajin, rajin mengerjakan tugas sebelum aku dan
nurul menyentuh handoutnya, rajin membereskan semua yang menurutnya tidak rapi
bahkan sampai tak ada sebutir debupun dikamarnya. Tapi saat malasnya kambuh, jarang kuliah,
mengerjakan tugas pun tinggal copas (copy_paste) dari teman dan kamarpun
seperti kapal pecah.
Berbeda
dengan temanku yang satunya, si Nurul. Dia adalah temanku
yang memiliki sifat ‘selalu’. Selalu rajin kuliah, selalu rapi, selalu rajin
marah-marah kalau aku dan evi terlambat berangkat kuliah, selalu mengingatkan
kami apapun yang akan dikerjakan sekarang bahkan esok hari, dan tak ketinggalan
ia adalah satu-satunya makhluk yang selalu galau. Ya karena banyak hal,
terutama untuk hal pacar dan gebetan yang bahkan melebihi jumlah maximum. Nurul juga yang
tertua diantara kami, dia sudah seperti ibu bagi kami, dia yang suka bilangin
kalau kita belum mandi, dia yang suka marah-marah kalau kita lagi malas kuliah
dan pokoknya is the best lah.
Momen
ini adalah pertama kalinya dia munncul ditengah-tengah kami yang sering berkumpul karena berasal dari
daerah yang sama, Banjarnegara. Memang di kampusku banyak semacam perkumpulan
dari kedaerahan yang tergabung dalam satu organisasi. Tak berbeda denganku yang
saat ini sedang berkumpul dalam pembahasan acara pengajian yang diadakan oleh
divisi keagamaan dan intelekual.
“Hai ket” kudengar seseorang memanggilnya. Aku menoleh, siapa dia ? sepertinya tidak
asing. pandangku sinis. Dia yang sok akrab tiba-tiba mendekat duduk di dekatku
dan menanyakan namaku lewat temanku
karena aku yang mungkin terlalu cuek. Tanpa ku tahu ternyata mungil mengenalnya
dari onetz cowoknya yang dulu serumah kontrakan
dengannya.
Tak
terasa kini imajinasiku kembali pada waktu 4 tahun lalu, waktu dimana aku masih
menjadi siswa dan bukannya mahasiswa di suatu Madrasah di daerahku. Aku mncoba
menerawang dan mengingat siapa sosok aneh yang berada di depanku saat ini.
Namun otakku tak mampu mencapai ingatan yang jelas walaupun telah berusaha
sekuat yang ia bisa.
Vai : kamu evi kan ? kita pernah bertemu ya
sebelumnya?
Evi : kayaknya si begitu, temennya onetz kan
mas ?
Vai : iya .. aku vai . panggil saja songket.
Evi : Evi (berjabat tangan).
Vai : siapa temanmu? kenalin dong vi, .(sambil
cengingisan )
Evi : Avrilia , (berjabat tangan) panggil saja
lia.
Lia : Dari banjar mas? Alumni mana? (tersenyum
sekedarnya)
Vai : MAN 2 Banjarnegara, kamu ?
Lia : samaan ? kok aku nggak kenal ya ? tapi
kaya pernah liat sih ..
Bla
bla bla ….
Akhirnya
obrolan ini terhenti karena acara rapat dimulai dan khusni sebagai ketua
organisasi dan sekaligus pemimpin rapat mengambil alih situasi .
***
Malam itu tanggal 23 februari tepat dimana hari onetz di antar oleh ibunya ke dunia atau lebih familiar disebut hari lahirnya. onetz adalah seseorang dengan tubuh tinggi, kurus, sedikit pendiam dan gila game. Dia
adalah teman songket yang saat ini
menyandang status sebagai pacarnya evi. Dan pada malam itu bagaimanapun
ceritanya aku diharuskan turut andil dalam acara surprise yang dibuat mungil untuknya. Sedemikian rupa mungil merancang konsep kejutannya itu bersama phendi. Phendi
adalah manusia super jail penghuni kontrakan. Phendi_lah yang bisa dikatakan
paling cakep diantara vai dan onetz, namun dia juga yang paling jorok sedunia.
Jarang mandi, suka kentut sembarangan, pokoknya tingkahnya bikin ilfeel. Tapi
bagaimanapun dialah satu-satunya yang bisa dajak kompromi meskipun dengan
syarat ba bi bu tapi akhirnya datang juga dia di depan kosan evi untuk
mengantarnya membeli kue ulang tahun.
Jam telah menunjukkan pukul 07.30, dan berangkatlah
kami menuju TKP. Ternyata vai_lah yang menjemput aku di kosan evi, ya
sebenarnya karena tidak ada lagi orang yang bisa jemput kecuali dia. Ahirnya
dengan sedikit canggung kita berangkat
dan mulai membuka pembicaraan yang bagiku tidak terlalu penting dan terkesan
garing.
Beberapa saat kemudian sampai juga kami di kontrakan
yang dimaksud. Kontrakan yang tidak terlalu besar dengan empat kamar tidur,
ruang depan, ruang tengah, kamar mandi serta garasi itu terletak agak jauh dari
kos evi. Konrakan yang sedikit berantakan itu terbangun di depan serumpun bambu
yang mebuatnya terkesan horor, terlebih jika
hari mulai malam hanya suara jangkrik yang tersaingi oleh suara soundsystem
yang sengaja dibunyikan keras-keras untuk menghalau sepi. Sejenak menyusun
strategi dan berbagi posisi, dan …
Surprise …..
Kata mungil mengejutkan onetz yang sedang bermain pes
dikamarnya. Dia cuma cengar-cengir karena senang bercampur malu, katanya saat
diinterogasi sesaat setelah acara. Hmm Sebuah ekspresi yang sangat mengecewakan
bagi kami. Setelah itu acara sakral selanjutnya adalah tiup lilin disertai make
a wish dan makan-makan pastinya, mereka terlihat asik menikmati malam itu,
kecuali aku yang Cuma senyam-senyum manis. Aku canggung, malu dan aku sendiri
yang sama sekali belum mengenal mereka semua, tapi ya dibikin asyik aja. Kan
ada vai yang notabene orang yang pengen kenal sama aku jadi ya its ok. Tak
terasa waktu cepat berlalu dan saatnya come back to kosan. karena kosnya jam 9
sudah tutup jadi mau tidak mau harus kembali pulang dengan dengan membawa banyak cerita.
Hp pun berbunyi, dari vai ternyata, dan akhirnya
perkenalanpun dimulai. Saat itu dia belum mengetahui kalau aku sudah memiliki
cowok . Harry namanya, tapi bukan harry poter pastinya. Dia baik, manis, dan
perhatian kepadaku. Dia paling bisa buat orang bahagia dan merasa paling
sempurna. Walaupun aku tidak tahu baik kepadaku atau kepada semua cewek. Dia
tinggi, putih, asik dan dia berhasil mengambi hatiku serta menjalani hubungan denganku dua
bulan ini.
Di sore itu aku
ke kosan mungil bersama Nurul. Sebelum
sampai dikosan, di dekat warung makan tepatnya ku bertemu Harry dan reflek aku
cium tangan seperti
sewajarnya saat bertemu
dengan pacar, namun tanpa ku sadari
ternyata ada yang memperhatikan aku di warung makan dengan ekspresi kecewa. Dia
lah vai yang ternyata berniat meminta foto dan cerita
tentang aku dari mungil. Sumpah aku
kaget, apalagi kita baru saja bisa dekat karena rajin
smsan, aku Cuma tersenyum dan
segera berlalu karena rasaku yang ingin segera menghempaskan
diri di tempat
tidur dan menutup mukaku dengan bantal.
Bruuk .. ku hempaskan tubuhku ini di tempat tidur mungil yang tidak
terlalu empuk itu. Tak terasa air mata menetes, mungil pun bertanya kenapa aku
menangis ? dan nurul yang mengetahui kronologis kejadiannya pun menceritakan
kejadian itu pada mungil. Mungil Cuma berkata, kenapa kamu nangis ? dia nggak papa
kok biar aku jelasin sama dia kalau Harry memang cowok mu. Bukan itu ngil aku
nggak enak, aku merasa bersalah
kataku, aku itu nggak tahu kalo ada dia di warung makan,
kalau aku tahu aku nggak mungkin lah kaya gitu didepan dia. kedua temanku malah
cerita sendiri. Dan ternyata vai tidak jadi menemui mungil karena teranjur kecewa.
Sumpah aku nggak mau lihat wajahnya yang mengerikan karena mungkin menyimpan amarah padaku .
Malamnya
aku sms dengan maksud meminta maafnya, tapi ekspresinya datar tidak seperi
biasanya, dia malah bilang wajar karena dia bukan siapa-siapa dan Harry
beruntung punya aku. Aduuh aku semakin merasa bersalah. Bagaimana ini ngil .. dia
marah sama aku. ya
sudah nanti juga baikan lagi, aku tahu dia bukan orang yang berpikiran pendek,
tenang besok juga baikan lagi
kata mungil.
Sebenarnya
hubunganku dengan Harry tidak seharmonis kelihatannya, aku belum seratus persen
yakin kalau dia memang mencintaiku dan
menganggap aku pacar satu-satunya. Hanya karena saat ini statusku
ceweknya jadi
wajib bagiku untuk setia padanya
kecuali kalau
dia memulai pertempuran dan selingkuh dariku itu lain cerita. Dan sepertinya
aku mulai bisa menerima vai disisiku walaupun telah ku hancurkan harapannya
dalam sekejap mata. Sebenarnya
aku tidak yakin karena sikapnya akhir-akhir ini yang
sering menghilang,
jarang menghubungi,
dan akulah yang harus mencari keyakinan itu sendiri
sebelum semua menjadi sia-sia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar