Malam itu teriakan kami begitu
keras dan ikhlas. Yang menandakan pertama kalinya aku dan kawan kawan benar
benar mencoba dan merasakan adrenalin naik 100% dari biasanya. Tepat malam Rabu
di Alun-alun utara kota Yogyakarta aku, Evi, Andika, Fitra, Jafar,Kazhu, Riza
dan Amin memutuskan untuk berjalan-jalan mengitari acara sekatenan yang memang
diadakan setiap tahun.
Sesampainya di pintu masuk area
pasar malam raut muka masing memperlihatkan begitu inginnya menghempaskan diri
dikasur alias ngantuk berat. Namun Andika mengusulkan untuk mencoba sesuatu
yang seru agar mata kembali terbuka dengan lebar. “KORA_KORA” adalah jawaban
yang terdengar sangat menakjubkan dari mulut seorang cowok yang selalu
menggunakan bahasa jogja versi ngapak itu. Respon kita semua biasa saja karena
memang sebagian dari kami pernah merasakannya di Ancol Jakarta.
Namun ini ada di tengah “pasar
malam” bukan diancol. Dan karena inilah yang mendorong kita semua untuk naik ke
singgasana kora-kora yang cukup tinggi. Sejenak terdiam dan aku menyaksikan sesekali Amin yang notabene cowok paling “sok”
cool diantara kami berkomat-kamit membaca do’a, mungkin dalam hatinya meminta
restu dari tuhan dan memanggil-manggil nama ibunya. Fitra malah lebih memutuskan untuk tinggal
dibawah dan menonton daripada harus pingsan diatas sana nantinya.
Sesaat sebelum naik terjadi
dilema diantara kami yaitu antara yakin dan tidak yakin. Kami dilema karena ini
menyangkut hidup dan mati kata ku. Setelah mempersiapkan semua keberanian dan
nyali akhirnya dengan berani kita memulai expedisi. Lalu sesaat setelah kami
naik dengan segera operator menyalakan mesin yang menjadi satu satunya setir
kapal kora-kora kami.
Aaaaa...aaaa.....
Teriakan itu sangat khas, yaitu
dari suara Kazhu, Ja’far dan riza yang terdengar hampir seperti paduan suara
yang sanyat memperlihatkan kefalesan_nya. Mereka mengambil posisi di ujung
kabin bagian belakang. Terlihat ketakutan namun tetap menikmati tampaknya
ketika ku lihat dari ujung kabin sebelah depan. Barisanku terdiri dari aku,
Evi, Andika, dan Amin. Namun mana suaranya ???? kami semua terdiam dengan
menahan rasa takut dan memperlihatkan wajah pucat kami. Amin malah mengatakan
ingin menangis dan sontak membuatku tertawa dengan muka hampir menangis juga. Mungkin
pasukan kabin belakang sangat ingin mentertawakan ekspresi wajah kami namun
mereka lebih memilih menyimpan tertawanya dan melanjutkan teriakannya.
Kapal kora-kora kami berjalan
hampir 6 menit dengan beberapa kali titik klimaks. Kami benar-benar merasa posisi
kami berada di puncak ketinggian yang membuat nyawa kami terasa hilang
sebagian. “Fyuhh akhirnya penderitaan ini berakhir” begitu kata evi yang
sesegera mungkin menyandarkan dirinya pada kazhu. Sesegera mungkin kami meluapkan
kesan kami masing-masing dengan tawa yang lepas. Padahal sebenarnya tawa itu
untuk diri sendiri. Dan pada endingnya perjalanan pulangpun tak terelakkan
setelah lelah ini melanda kami serta waktu yang kian beralih menuju pada pagi
hari.
;-) ;-) ;-)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar