Malam
pekat berhiaskan kilat bahkan hampir disetiap detik. Namun mataku kembali
terjaga menunggu kabar yang tak kunjung
tiba. Segera kurangkai pesan dan ku kirim namun hanya berlalu, kupanggil beberapa
kali namun hasilnya nihil.
Lalu
Ingatan menerawang pada waktu satu tahun ke belakang, ingin kutenun sejuta
puisi kemudian ku ucap, namun bibir ini semakin
terjahit suara luka yang keras . Ingin kuhirup udara kehidupan yang sama, namun
terhempas oleh kemauan yang keras menyerupai ego.
Akankah
aku harus berteriak ditengah sesaknya nafasku oleh airmata ? aku berkata iya menyambut
segala duka dan berharap ikut menjadi peran dalam drama sukamu. Namun tampaknya
semua punah, hanya salah yang kian menyerah menggerogoti tiap ulu hati berharap
kehadiran saat suara hati ini bergema memanggil.
Aku
tanyakan namun tak ku persalahkan, ingin dimengerti walau selalu terulangi. Merasa
sepihak dan semena-mena menginjak rasa. Selalu pandai mensetting bahwa akulah
tersangka, akulah makhluk tak punya hati yang tega meninggalkan suasana sepi
dan penuh duri. Serta mendoakan agar kaktus mati ditengah gersangnya gurun pasir.
Namun
aku bukanlah malaikat yang tiba disaat yang tak terduga. Ditengah luka dan
harapan yang telah pupus. Aku hanya seorang putri dari keluarga kurcaci yang
butuh tempat untuk kembali bukan selalu menjadi peri.

tetaplah jadi perry tanpa sayap yang saling bukan selalu, tetaplah jadi bintang ditengah malam yang saling menerangi dan tetaplah jadi kaktus yang bertahan hidup ditengah gurun yang gersang ....
BalasHapustetap berharap adalah satu kunci pasti.
Hapusbahkan aku akan semakin bersinar jika malam semakin gelap.
dan kuatnya kaktus itu karena ia mampu menyimpan air kehidupan, layaknya aku yang harus mampu menyimpan cinta dan kasih sayang,
tidak ada yang burung yang terbang menuju matahari
dia hanya sadar akan kemampuannya